Udeng Bali adalah salah satu kelengkapan busana adat tradisional Bali, baik untuk laki-laki maupun perempuan. Selain itu, udeng dikenal juga sebagai destar di beberapa daerah. Udeng merupakan ikat kepala dari kain yang diikat dengan simpul tepat di kening, sebagai simbol pemusatan pikiran saat melakukan persembahyangan sehingga konsentrasi dapat lebih fokus.
Sejarah Udeng Bali
Keberadaan udeng saat ini tidak hanya sebagai perlengkapan persembahyangan, namun juga telah menjadi tren mode di kalangan pemuda Bali. Selain itu, berbagai corak dan warna udeng dapat disesuaikan dengan perkembangan tren mode, sehingga cocok digunakan untuk kegiatan rias atau foto adat Bali.
Di setiap daerah di Bali, udeng memiliki ciri khas tersendiri, baik dari corak maupun warnanya. Sebagai contoh, untuk kepura atau tempat persembahyangan, udeng berwarna putih digunakan sebagai simbol kesucian. Sedangkan untuk upacara adat biasa, digunakan udeng bermotif batu atau endek (tenun ikat khas Bali).
Pada zaman dahulu, membuat udeng membutuhkan teknik khusus dan memakan waktu agar terlihat rapi. Namun, saat ini banyak udeng sudah jadi, sehingga bisa langsung dipakai. Harga udeng Bali bervariasi mulai dari Rp50.000 hingga Rp150.000 tergantung corak dan bahan.
Baca Ulasannya Paket foto adat bali hanya 300k per orang
Makna Penggunaan Udeng
Udeng berfungsi sebagai simbol “ngiket manah” atau pemusatan pikiran, yang menggerakkan panca indera kita. Beberapa makna simbolik dari udeng antara lain:
- Lekuk kanan lebih tinggi dari kiri → melambangkan lebih banyak berbuat dharma daripada a-dharma
- Ikatan di tengah tepat di kening → memusatkan pikiran
- Ujung ke atas → pikiran lurus ke atas untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa
Selain itu, udeng juga dapat digunakan sebagai kelengkapan busana adat Bali dan busana persembahyangan memiliki simbol ketuhanan yang menyatukan Tri Murti dalam simpul “tunggal”:
- Tarikan ujung kain kanan → Wisnu
- Tarikan ujung kain kiri → Brahma
- Ujung kain di atas → Siwa
Dengan menggunakan udeng, secara garis besar diharapkan kita selalu berbuat baik sehingga dapat bersatu dengan-Nya (Moksa).
Jenis Udeng
Udeng dalam makna pakaian adat kepura dibagi menjadi tiga diantaranya:
- Udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan) menggunakan simpul hidup di depan, disela-sela mata, sebagai lambang cundamani atau mata ketiga.
- Udeng dara kepak, masih ada bebidakan tetapi ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan.
- Udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku) tidak ada bebidakan, hanya ad apenutup kepala dan simpulnya di belakang dengan diikat kebawah sebagai symbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Selain itu, udeng Bali sangat cocok digunakan untuk kegiatan rias atau sesi foto adat Bali. Jika tertarik, segera hubungi kami melalui FotoAdatBali.com untuk informasi lebih lanjut.